15d99d87-e06d-4478-9ef4-bfb0109797f3_169

Lupa meletakkan barang, tersesat ketika keluar rumah tanpa ditemani, hingga emosi yang naik-turun, menjadi gejala demensia yang sering dialami mereka yang sudah lanjut usia.

Pikun, menjadi sebutan untuk orang tua yang sering mengalami hal-hal tersebut. Kondisi seperti itu sejak lama dianggap menjadi hal yang lumrah jika dialami oleh orang lanjut usia. Beberapa orang pun menyebutnya sebagai ‘penyakit tua’.

Banyaknya orang yang tidak memahami kondisi tergelincirnya memori seperti itu sebagai kondisi demensia, membuat penyakit ini sering terabaikan. Padahal, beberapa penelitian telah menyebut bahwa gejala demensia dapat terlihat 12 tahun sebelum pasien didiagnosa.

Periset di Amerika Serikat menemukan 80 persen pasien demensia, mulai mengalami penurunan ingatan bertahun-tahun sebelumnya. Memang, sebagian para ahli mengatakan tidak perlu khawatir kepada pasien yang mengeluhkan sering lupa meletakkan barang.

Namun tetap saja, jika situasi seperti itu sering dilakukan oleh lansia, anggota keluarga yang lain harus mulai menyadari dan melakukan pencegahan untuk membuat kondisinya tidak semakin akut.

Dilansir dari Vanguard, para ilmuwan di University of Kentucky memelajari 531 pensiunan. Mereka menanyakan apakah sering mengalami kejadian seperti melupakan barang-barang pribadi atau sekadar lupa mematikan lampu.

Pada 12 tahun kemudian, pensiunan itu kembali ditanyakan hal yang sama dan menjalani tes diagnosa demensia. Penelitian yang kemudian diterbitkan dalam jurnal Neurology itu menemukan bahwa terjadi perkembangan gejala demensia oleh satu dari enam pasien.

Dokter yang memimpin penelitian, Tichard Kryscio mengatakan catatan penting dari studi tersebut adalah waktu yang dibutuhkan untuk transisi dari ketika pertama kali seseorang menyadari ada masalah dengan ingatan mereka hingga akhirnya didiagnosa mengalami demensia.

Artinya, kemungkinan ada jendela besar yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk mengintervensi, sebelum terdiagnosa. “Sangat jelas, bahwa seseorang yang mengalami masalah memori harus melaporkannya kepada dokter sehingga mereka dapat diawasi,” katanya.

Kryscio menambahkan, banyak orang akan mengalami penurunan memori seiring bertambahnya usia mereka. Studi ini pun menambah bukti yang menunjukkan bahwa beberapa orang yang mengalami kehilang memori ringan di usia yang lebih tua, dapat mengembangkan demensia.

“Meskipun kita semua melupakan hal-hal dari waktu ke waktu, kehilangan memori dalam demensia lebih parah dari sesekali lupa,” ujar Kryscio.

Sebagai gejala kelainan pada otak, demensia hanya dapat disembuhkan jika penyakit penyebabnya juga dapat disembuhkan. Sebagai contoh, dikutip dari docdoc.com, jika demensia terjadi akibat penyalahgunaan zat terlarang, maka gejala itu dapat dipulihkan jika pasien berhenti mengonsumsi obat terlarang atau alkohol.

Sedangkan, beberapa penyebab demensia yang tidak dapat disembuhkan, di urutan pertama ditempati oleh Alzheimer, Demensia Vaskular, Demensia Lewy Body dan Demensia Frontotemporal.

Sejak Rabu (21/9) beberapa kota di berbagai negara memperingati Hari  Alzheimer Sedunia. Banyak negara, termasuk Indonesia, yang menjadikan momen ini untuk kembali mengingat pentingnya tidak alpa terhadap penyakit lupa. (meg)

Sumber : CNN Indonesia

%d bloggers like this: