68db193f-d1ed-4d62-99b7-b6588fedbef2_169

Salah satu permasalahan klasik dunia kesehatan Indonesia adalah keberadaan data, tak terkecuali untuk penyakit demensia. Lebih dikenal dengan sebutan pikun atau yang dianggap sebagai penyakit khas orang tua, demensia pun sering dianggap masalah kecil.

Dalam laporan Alzheimer’s Disease International (ADI), lembaga internasional yang membantu para penderita serta pemerhati masalah demensia dan alzheimer itu juga mengeluhkan hal yang sama pada tahun lalu.

Kala itu, ADI mengeluarkan rilis skala global yang menggambarkan analisis prevalensi, kejadian, dampak biaya, hingga tren demensia selama setahun terakhir. Dalam catatan prevalensi dan pasien itu, ADI menyoroti minimnya penelitian demensia di Indonesia.

“Cakupan data dalam beberapa regional tetap tidak memadai. Eropa Timur (termasuk Rusia) dan Asia Tengah pada dasarnya belum tersorot dalam penelitian, membuat estimasi kami atas penderita demensia menjadi sangat tentatif,” tulis ADI dalam analisisnya.

“Kawasan Asia Tenggara diwakilkan melalui enam studi. Namun tidak ada satu pun yang berasal dari Indonesia yang memiliki 22 juta orang lansia dan mencakup sekitar 40 persen dari total populasi lansia di atas 60 tahun di regional tersebut,” sebutnya.

Menurut ADI, hanya Singapura, Thailand dan Malaysia yang memiliki satu atau lebih, sumber penelitian demensia yang dapat digunakan sebagai referensi dari kawasan Asia Tenggara.

Dalam riset yang biasa dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan seperti Riset Kesehatan Dasar juga tidak ditemukan catatan mengenai demensia, alzheimer, atau gejala penurunan saraf tersebut.

Untuk kategori penyakit tidak menular, Riskesdas terbaru pada 2013 lalu masih berkutat pada asma, penyakit paru obstruksi kronis, kanker, diabetes, hipertiroid, hipertensi, jantung koroner, gagal jantung, stroke, gagal ginjal kronis, batu ginjal dan penyakit sendi atau rematik.

Masalah kesehatan jiwa, sebagai bagian yang melingkupi demensia, hanya berkutat pada gangguan jiwa berat dan prevalensi gangguan mental emosional. Padahal, gangguan kejiwaan dapat disebabkan banyak faktor, termasuk demensia dalam tataran akut.

Keterangan di Indonesia yang bisa digunakan untuk menggambarkan kondisi lansia adalah data sensus penduduk yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS).

Merujuk Hasil Survei Penduduk Antar Sensus yang dirilis BPS 2015 lalu, diketahui bahwa penduduk Indonesia berusia di atas 60 tahun mencapai 21,4 juta jiwa. Usia ini merupakan kelompok yang paling rentan terkena demensia.

BPS juga mencatat jumlah penduduk yang memiliki salah satu kriteria demensia, yaitu mengalami kesulitan mengingat dan konsentrasi. BPS menemukan bahwa ada 4,07 juta orang di atas 60 tahun di Indonesia yang mengalami masalah tersebut dengan jumlah terbanyak pada orang di atas 75 tahun.

“Saat ini memang belum ada data resmi terkait jumlah penderita demensia di Indonesia, hanya baru ada proyeksi yang dikeluarkan oleh ADI,” kata Wakil Ketua Yayasan Alzheimer Indonesia Bidang Riset, Tiara P Sani, saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

ADI memperkirakan Indonesia memiliki jumlah penderita demensia sebesar 1,2 juta jiwa dan masuk dalam sepuluh negara dengan demensia tertinggi di dunia dan di Asia Tenggara pada 2015.

Mereka juga melihat Indonesia sebagai negara dengan peningkatan jumlah penderita demensia kelompok menengah di Asia Tenggara bersama Filipina, Thailand dan Vietnam. Terdapat dua penelitian yang menyebut presentase peningkatan mencapai 5,8 persen dan 4,8 persen.

“Angka ini masih fenomena gunung es, banyak yang tidak menganggap ini penting sehingga tidak memeriksakan dirinya dan akhirnya tidak terdiagnosis,” kata Tiara. “Diperkirakan, pada 2030 nanti penderita demensia di Indonesia menjadi hampir dua juta jiwa dan pada 2050 melonjak jadi empat juta jiwa.”

Dampak lonjakan penderita demensia ini pun dinilai dapat mempengaruhi kondisi ekonomi suatu negara. Menurut Tiara, ALZI pernah melakukan survei dan menemukan bahwa rata-rata keluarga yang memiliki ODD menghabiskan uang Rp4-7 juta per bulan untuk biaya perawatan pasien ODD.

Biaya perawatan bisa berasal dari kebutuhan ODD, hingga biaya perawat profesional guna menangani ODD. Namun, perawat pun ternyata memiliki batasan. Tiara mengatakan, berdasarkan survei YAI, rata-rata perawat yang bertahan untuk mengelola pasien ODD hanya sampai delapan bulan.

Kondisi tersebut baru dalam tataran keluarga. Pada tingkat negara, Tiara menyebut bahwa kerugian Indonesia akibat demensia diproyeksikan mencapai US$1,7 miliar per tahun. ADI bahkan mencatat, kerugian dunia akibat demensia naik dari US$604 miliar pada 2010 menjadi US$818 miliar pada 2015.

Menghadapi kondisi seperti ini, ADI menyarankan perlu ada tindakan baik secara global dan tingkat negara. Tindakan tersebut termasuk peningkatan kesadaran, pembangunan komunitas ramah demensia, dan pelayanan serta fasilitas kesehatan yang berkualitas.

Sejalan dengan itu, keberadaan kepastian pasien ODD menjadi penting demi memberikan gambaran utuh yang kemudian menjadi landasan kebijakan penanganan dan pencegahan demensia lebih parah.

Ini juga yang mulai dijalankan dengan program Jakarta Smart City Ramah Lansia Ramah Demensia sejak 2015 lalu, dan dilaksanakan dalam kesatuan bernama Pasukan Ungu.

Pasukan Ungu ini terdiri dari tim Dinas Kesehatan dan kader masyarakat kemudian mengecek kondisi demensia di sekitar wilayah mereka. Selain untuk pendeteksian dini, juga sebagai rujukan intervensi kesehatan yang patut dilakukan untuk daerah tersebut.

“Dibandingkan dengan penyakit lain, sebenarnya tidak ada prioritas khusus. Tim ini datang dari rumah ke rumah membawa semua kebutuhan informasi, mulai dari kondisi kesehatan masyarakat hingga keterlibatan dalam asuransi kesehatan,” kata Kepala Seksi Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Endang Murdiati.

“Setelah masyarakat diperiksa semua, didapatlah profil dari daerah tersebut yang kemudian diolah dan nanti baru diadakan penyesuaian intervensi. Ini terkait dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat,” ujarnya.

(meg)

Sumber : CNN Indonesia

%d bloggers like this: