728a75ab-b039-42c1-adf8-18d2993a91d7_169

Banyak orang yang tak mengetahui bahaya dari pikun yang sering melanda lansia. Padahal jika dibiarkan, pikun bisa saja bertambah parah.

Pikun atau yang dalam bahasa kedokteran disebut dengan demensia adalah penyakit degeneratif bertahap yang meyerang sel saraf pada otak dan menyebabkan hilangnya ingatan, penurunan kemampuan berpikir dan berbicara.

Penurunan tersebut turut dibarengi dengan perubahan perilaku pada individu. Orang Dengan Demensia (ODD) umumnya akan kesulitan mengingat banyak hal, misalnya nama orang, nama benda, atau pun lupa menaruh barang.

Dengan kondisi seperti itu, lansia yang mengalami demensia akhirnya rentan lupa jalan pulang ke rumah mereka. Bagian yang paling parah adalah ketika mereka tersesat di kota besar seperti Jakarta.

Dengan banyaknya kasus lansia hilang itu pemerintah DKI Jakarta menggagas misi menjadikan Jakarta sebagai Kota Ramah Lansia. Salah satu bentuknya adalah dengan menambahkan fitur Lansia Hilang pada aplikasi Qlue.

Masyarakat yang kehilangan lansia atau mungkin menemukan lansia yang terlantar diharapkan dapat melapor melalui fitur tersebut.

Laporan nantinya akan ditindaklanjuti oleh Pasukan Ungu, yang terdiri dari Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Aparatur Daerah Provinsi DKI Jakarta, serta relawan dari Alzheimer’s Indonesia (ALZI).

Jika sudah ditemukan, Pasukan Khusus Penjemput Lansia (PKPL) bersama P3S dan TRC akan menjemput lansia tersebut. Namun, kalau dalam waktu 24 jam tidak dilakukan penjemputan oleh keluarga, maka lansia akan dibawa ke tempat penampungan sementara.

Tak hanya menyiapkan tenaga tindakan, untuk merealisasikan misi ramah lansia itu, dibuka juga tempat-tempat untuk mendeteksi dini demensia. PSBI Cipayung, Jakarta Timur, dan Kedoya, Jakarta Barat, setiap hari Selasa dan Kamis membuka tempat konsultasi.

Pada hari lain, deteksi dini bisa dilakukan di puskemas terdekat. Fitur ini tak hanya menerima laporan terkait lansia hilang saja, namun juga akan memberikan informasi seputar kegiatan aktivitas fisik,, info mengenai deteksi dini, dan juga tempat penitipan lansia terdekat.

“Dengan adanya aplikasi ini, kami ingin meningkatkan kesejahteraan hidup penderita demensia dan juga caregiver. Selain itu agar anak muda semakin peduli dengan lansia,” ujar DY Suharya, Deputy Regional Director Alzheimer’s Disease International, untuk kawasan Asia Pasifik.

Persiapan lain untuk membantu ODD juga telah disiapkan. Seperti caregivers meeting yaitu pertemuan untuk para perawat ODD.
Dalam pertemuan tersebut akan ada banyak diskusi perihal penyakit demensia. “Adacaregivers support group dan juga diskusi melalui grup whatsapp,” kata Suharya.

ALZI juga memastikan bakal bekerja sama dengan Pemkot DKI untuk membuat Pojok Lansia yang diperuntukkan bagi lansia yang masih sehat. “Nantinya akan diadakan setiap satu bulan sekali saat Car Free Day. Kegiatannya seperti main angklung bersama,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Executive Director ALZI, Dian Purnomo. Ia optimis bahwa ke depannya fitur ini bisa memberikan pelayanan yang lebih dari sekadar info lansia hilang.

“Nantinya kami ingin ada pemberian caregiver bagi yang membutuhkan. Mungkin bukan untuk waktu yang lama, tapi sesaat saja untuk penanganan tertentu,” ujar Dian.

Sampai saat ini, kata Dian, ia dan Pasukan Ungu masih berfokus pada lansia hilang dan deteksi dini demensia. “Saat ini sudah ada 200 Pasukan Ungu yang ditraining. Nantinya akan ada 1000 lebih Pasukan Ungu, dan itu semua sukarela, tidak dibayar,” kata Dian.

Asisten Kesejahteraan Rakyat DKI Jakarta, Fatahillah, berujar bahwa saat ini Jakarta sudah siap menjadi Kota Ramah Lansia. Hal ini telah dibuktikan di beberapa jalanan ibu kota, seperti MH Thamrin dan Gandaria yang mulai menayangkan sepuluh gejala Demensia Alzheimer. “Nantinya kami akan membuat jalur ungu,” katanya.

(meg)

Sumber : CNN Indonesia
%d bloggers like this: