f2c404c1-cfed-48f0-9e53-fc410ce3ec69_169

Salah satu tanda seorang lansia mengidap demensia adalah menurunnya kemampuan orientasi atau mengenal arah. Hal ini terjadi karena pelemahan pada sel saraf di otak yang menyebabkan penurunan kemampuan kognitif seperti berpikir.

Kondisi ini pula yang menyebabkan orang dengan demensia (ODD) menjadi sulit membedakan siang dan malam. Mereka juga cenderung aktif bergerak pada malam hari dan tidak mengenal rumah atau jalan yang dilewati sehingga mudah tersesat.

Namun menghadapi ODD yang tersesat pun tak semudah menunjukkan jalan kepada orang yang mencari jalan. Kondisi demensia yang diidap rentan menyulut emosi penderita.

Beberapa cara khusus perlu dipahami oleh masyarakat saat menemui lansia ODD yang tersasar. Cara ini berfungsi bukan hanya untuk kebaikan ODD, namun juga agar yang menemukan tidak kepalang emosi dan membuat situasi makin buruk bagi ODD.

Berikut cara terbaik untuk membantu ODD yang tersesat dikutip dari Panduan Pelatihan Pasukan Ungu Jakarta Ramah Lansia – Yayasan Alzheimer Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

1. Berikan Kenyamanan

ODD akan merasa lebih baik ketika ia berada dalam situasi yang nyaman. Maka dari itu, bawa dia ke tempat yang lebih tenang dan tidak berisik. Kondisi ribut membuat pikiran ODD menjadi ‘penuh’ dan kacau.

Setelah dibawa ke tempat yang lebih tenang, berikan ODD tempat duduk. Kemudian kalau dirasa perlu, tawarkan ODD makan atau minum.

2. Sopan

Lansia yang mengidap demensia akan mudah tersulut emosi. Maka, berlaku sopan akan meningkatkan rasa percaya dan kenyamanan bagi mereka. Beberapa hal dapat dilakukan untuk bisa dianggap sopan.

Pertama, kenalkan diri terlebih dahulu. Kemudian gunakan panggilan netral seperti ibu atau bapak kepada ODD. Lalu tanyakan nama mereka dan bagaimana mereka ingin dipanggil. Ini untuk mencegah menyapa ODD dengan sebutan yang membuat ia tersinggung.

Kemudian, pastikan mata Anda dan ODD sejajar ketika saling berkomunikasi. Andai ODD duduk, maka Anda sebaiknya ikut duduk atau berjongkok agar pandangan saling sejajar.

3. Perhatian

Memberikan perhatian bukan hanya dalam bentuk pertanyaan akan kondisi ODD, namun juga memberikan kesempatan mereka menceritakan kejadian yang mereka alami hingga tersasar. Dan ketika ODD tengah bercerita, jangan pernah membantah mereka. Karena dikhawatirkan akan membuat ODD tersinggung sehingga mengubah emosi mereka.

4. Sabar

Sabar dan bersikap sederhana menjadi strategi ampuh menghadapi ODD. Dalam aspek ini pun, beberapa teknik perlu diperhatikan saat berhadapan dengan ODD.

Pertama-tama, sediakan waktu saat berbicara dengan ODD. Jangan berbicara kepada ODD dengan terburu-buru atau dalam kondisi sibuk. Selain karena daya menangkap informasi mereka sudah melemah, ini bisa membuat ODD enggan berkomunikasi dengan orang lain.

Bila menemukan ODD tersesat bersama rekan-rekan, maka upayakan berbicara bergantian. Akan lebih baik bila hanya satu orang yang menjadi juru bicara kepada ODD guna memudahkan dia mendapatkan informasi.

Karena kemampuan menerima informasi yang sudah melambat, maka upayakan bicara dengan jelas dan lebih lambat dibandingkan berbicara kepada orang awam. Gunakan nada bicara yang lebih tenang agar tidak memancing emosi ODD.

Bukan hanya bicara lebih lambat, sebaiknya menggunakan kalimat tanya yang lebih sederhana guna mempermudah ODD mencerna informasi. Beberapa kalimat sederhana seperti “Ibu/Bapak ke sini dengan siapa?”, “Ibu/Bapak mau ke mana?”, “Apakah Ibu/Bapak bawa KTP?”, dan “Apa yang bisa saya bantu?” dapat digunakan saat bertemu ODD.

Ketika sudah mengupayakan berbicara dengan ODD namun ia tetap tak bergeming, maka jangan memaksanya berbicara. Jangan panik ketika ODD tidak merespon upaya Anda untuk berkomunikasi.

Membantah saja sangat tidak dianjurkan ketika berkomunikasi dengan ODD, apalagi bertengkar. Namun ketika nada ODD meninggi, coba alihkan topik pembicaraan sebelum Anda dan ODD bertengkar serta situasi menjadi makin buruk.

(chs)

Sumber : CNN Indonesia

%d bloggers like this: